SEARCH


Wednesday, April 14

CERPEN : Matahari dan Hujan by Wulan Arisa


Di suatu perdesaan, musim panas akan beralih menjadi musim penghujan. Matahari mengucapkan salam perpisahan kepada air hujan.
“selamat, ya hujan sekarang kamu yang bertugas untuk menghujani sawah-sawah,tumbuhan,dan memberi air kesumur warga kampung sini.”ucap matahari kepada hujan.

“makasih ya matahari, o..ya sampai jumpa!!!”salam hujan.


Lalu matahari pergi ketempat peristirahatan. Tinggallah hujan yang bertugas pada waktu itu. Pada mulanya hujan hanya menurunkan gerimis-gerimis saja. Pada saat menurunkan gerimis, hujan mendengar ucapan para warga yang bersyukur karna hujan sudah datang.

“terimakasih tuhan, akhirnya kami tidak akan kekeringan lagi.” Begitulah ucapan seorang pak tua yang sudah lanjut usia.

Mendengar ucapan itu hujan merasa senang karna dia dapat menyenangkan warga didesa itu. Lama selang waktu berlalu kadang hujan mau turun kadang pula tidak. Pada suatu hari ada segerombolan orang-orang desa itu pergi kehutan.mereka akan menebang pepohononan untuk kayu bakar. Awalnya hujan tidak terlalu menanggapi hal itu. Namun, seraya waktu berlalu orang-orang itu terus menebang hutan itu hingga gundul. Warga didesa itu sudah buta mata hatinya. Mereka tidak bisa berterimakasih pada alam. Karna, banyak manfaat dari hutan itu. Antara lainnya adalah sumber makanan dan sumber udara segar yang bersih dari polusi.

“ya… ampun beginikah manusia? diberi hati minta jantung.. memang manusia itu tidak ada puas-puasnya”kesal hujan.

“ya itulah manusia, makanya kerusakan bumi ini karna ulah manusia sendiri.”jawab awan.suasana hening seketika. Hujan tak percaya kalau manusia bisa sejahat itu.

“manusia begitu jahat!!!!!”teriak ranting-ranting pohon yang berserakan di tanah.

“manusia memang kejam,, mengapa mereka tidak mau bersahabat dengan alam.!!”kata pohon-pohon yang tergeletak diatas tanah.

Melihat keluhan itu hujan merasa kasihan dan tidak habis pikir atas kejadian ini. Hujan akhirnya turun membasah kuyup desa itu dengan sangat deras. Sehari semalam desa itu didatangi oleh raja hujan yang deras sehingga desa itu banjir. Hampir semua wilayah didesa itu tergenang oleh air hujan yang hampir setinggi pinggang orang dewasa. Hewan ternak, sawah-sawah, rumah-rumah yang mewahpun ikut dibanjiri. Hujan mengaggap ini sebuah pelajaran bagi penduduk. Hujan selalu turun dengan deras tiada henti-hentinya. Desa pun tergenang semakin dalam, hampir satu meter lebih. Hujan tau kalau desa itu mengalami kerugian yang cukup banyak. Namun, hujan melakukann semua ini demi kebaikan untuk semuanya. Lama jarum jam bergerak memutari lingkaran jam itu,barulah hujan berhenti. Dan banjirpun perlahan mulai surut.

Warga mulai membersihkan rumahnya. Seorang warga yang baru menginjak dunia remaja, itu menuliskan diary nya. Remaja itu bernama rafly seorang anak orang terkaya didesa itu. Rafly sekolah dikota, ketika banjir melanda dia sedang liburan. Rafly menuliskan di diarynya sambil merenungkan musibah ini.
“Dear diary,, sekarang aku baru pulang kedesa ku yang ku pikir sebelumnya indah seperti dulu.udara yang segar dan tiap paginya bisa melihat hijaunya desaku ini. Namun pemikiranku itu 100% salah. ketika kutiba di perjalanan hampir sampai didesaku itu,, yang ku lihat hanya air yang berwarna coklat merona jingga. Namun tujuanku adalah untuk pulang walaupun susah untuk melangkah di air coklat yang sedikit ada lumpur. Seraya melangkahkan kaki di air itu aku berfikr pula “mengapa banjir ini bisa hadir didesaku ini. Mengapa musibah ini melanda desaku.” Aku pun terus berjalan sehingga aku sampai dirumahku. namun ketika kuliha dari kejauhan kulihat sebuah rumah dua tingkat yang tampak sepi dan sunyi. Aku pun sudah tiba dirumahku. ketika kubuka pintu, kulihat rumahku yang hampir semua barang tergenang. Keluagaku semuanya pun mengunsi di rumah yang lantai dua. Ketika aku menaiki tangga , kudengar suara tv yang sedang ditonton oleh adikku.akupun kangen-kangenan pada semua anggota keluraga intiku. Lalu aku menanyakan pada ayahku mengapa semua bisa terjadi. Ayahku bilang semuanya gara-gara warga desa ini. Mereka menggunduli hutan kita. Aku pun baru tersadar ternyata semua ini hanya sebuah pembelajaran bagi manusia. Karna, manusia tidak mau bersahabat dengan alam.” Kutipan diary itulah yang didengar oleh hujan. Hujan pun bangga atas tanggapan itu. Ketika hujan berhenti matahari datang menemui hujan.

“hujan kamu jahat sekali mengapa engkau siksa desa ini. Padahal mereka itu tidak bersalah” marah matahari pada hujan.

“ma’af matahari aku tidak bermaksud untuk menyiksa mereka tapi mereka lah yang memancingku untuk menyiksa mereka.” Jawab hujan dengan tenang. Namun matahari tetap marah pada hujan. Sehingga matahari pergi. Hujan pun merasa bersalah pada matahari. Sehingga hujan pergi dari desa tersebut. Beberapa hari kemudian kebetulan pula bulan berganti kemusim panas. Matahari pun datang karna sekarang dia mulai bertugas . matahari pun melihat dengan cermat desa itu. semua bekas-bekas banjir tak kelihatan lagi. Namun ada sebuah keadaan yang meng-asingkan pandangan matahari.mataharipun memikirkan apa yang membuat dia asing melihat desa itu.

“Desa ini kelihatan agak asing bagiku, tapi aku tidak tahu apa itu. ya…ampun!!!(sambil melihat daerah yang dulunya hutan)mana hutan didesa ini??” Tanya matahari. Panorama itupun menjadi tanda Tanya besar bagi matahari. Tak lama kemudian. Ia melihat seorang remaja yang sedang berbincang dengan seorang kakek tua. Remaja laki-laki itu adalah rafly.
“Kek, memangnya mengapa orang-orang itu mau menebang hutan ini. Itu kan bisa mengurangi hutan yang ada diindonesia.Kakek tau tidak semakin berkurangnya tumbuhan dibumi ini bisa terjadi global worming”

“Ma’af den, kakek juga ikut dalam penebangan itu. karna selain kayunya bisa di manfaatkan untuk kayu bakar,, hutan itu juga akan dibuat.sebuah lahan tempat pembuangan sampah dari pabrik yang terdapat disebelum desa kita ini. Lagian aden bilang tadi akan terjadi global worming.ma’af den,kakek tidak tahu apa itu global worming,”

“kek, global worming itu adalah pemanasan global. Dimana bumi ini akan terasa panas.kakek tau tidak kalau sekarang dikota-kota itu sudah mengalami global worming. Karna dikota-kota itu sangat jarang kita melihat pohon. Tidak adanya pohon itu, udara bersih itu jadi berkurang. Yang ada hanya asap kendaraan yang bercampur debu. Dan sekaranh itu sudah banyak program dari pemerintahan negri kita ini. Salah satunya program menanam seribu pohon”

“o… gitu toch den,,,,,,”

“tadi kakek bilang hutan itu akan dibuat tempat pembuangan sampah ya…”

“iya,den..”

“ya.. ampun kek, siapa yang setuju akan itu.kalau hutan itu dibuat tempat sampah. Kita akan mudah terserang penyakit. Nyamuk akan bersarang disampah itu. lalat juga akan memenuhi tempat itu. lagian tempat sampah itu pasti bau.”

“tapi den,, kata pemilik pabrik itu dia akan membayar pada desa ini sebanyak 50 juta perbulan. Dan itu lumyan bisa buat makan. Ditiap rumah kita bisa mendapatkan 500 ribu perorang.”

“ya..ampun kek, kalaupun begitu. Kalau kita terserang penyakit nyamuk demam berdarah yang diakibatkan dari sampah-sampah tadi bagaimana. Bahkan lebih banyak biaya yang akan kita keluarkan mulai dari pengobatan, biaya menginap,dan lain-lain. Kek, kesehatan itu lebih berharga dari pada uang”

Semuanya terdiam,
“ ya…allah pendek sekali pemikiran warga sini. Semuanya bisa digelapkan dengan uang. Memang sich sekarang krisis ekonomi melanda dunia,, tapi mereka juga harus berpikir tentang kesehatan mereka sendiri. Betapa minimnya pengetahuan mereka ini ya,,, allah” kata rafly dalam hati.

Mendengar percakapan itu, matahari tambah bingung dia pun berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Matahari pun bertanya pada awan.

“duhai awan apa yang sebenarnya terjadi???”

“terjadi bagaimana, matahari???”Tanya awan

“itu,bagaimana terjadinya banjirdi desa ini??”

“oh…itu, waktu itu segerombol orang dari desa ini menebang hutan yang ada disini. Hujan hanya memberi pelajaran saja pada warga disini”jelas awan.

“ya… ampun!!!!!aku sudah salah paham pada hujan.. hujan, ma’afin aku ya….”

“tapi apa boleh buat hujan sudah pergi.”

“apa??? Hujan pergi?? Mengapa dia pergi?”

“ma’af matahari aku tidak bisa jelaskan padamu. Karna sepertinya hujan tidak boleh aku menceritakan kepadamu”

“tolonglah awan,sekali ini saja.”

“tapi,,,,,,,”

“awan, aku mohon!!”

“baiklah,aku akan ceritakan padamu hujan pergi sebelum tugasnya selesai.karna waktu itu kamu memarahinya karna dia telah membanjiri desa ini”

“ya….ampun sampai segitunya !!kamu tau tidak dia lari kemana?”

“ma’af matahari aku tidak tahu kalau soal itu.”

“ya…sudah makasih ya…”

Mataharipun kembali ketempat semulanya tadi.. dia bersinar semakin siang semakin panas.iapun seraya memikirkan kemana perginya hujan.dia pun berencana untuk mencari hujan. Matahari pun berputar, sambil mencari hujan.

“hujan,kamuuu dimana????”

Tak lama kemudian matahari tiba disebuah desa terpencil, yang terdapat disebelah timur pulau papua.. matahari melihat gunung-gunung yang ada didaerah itu. iapun bertemu dengan hujan.

“hu..ja..n????”

“ma..ta..hari???” melihat matahari hujanpun langsung pergi. Karna matahari masih marah padanya,

“hujan!!!!!!! Jangan pergi, aku hanya ingin minta ma’af padamu. Dan aku sudah tau semua yang telah terjadi!!!!!” teriak matahari.

Mendengar ucapan itu hujanpun berbalik kebelakang. Mereka berdua saling berma’af-ma’afan.
“ma’afkan aku hujan,aku memang salah padamu”
“aku juga”
Mereka berdua pun kembali berteman seperti dulu . pertemanan yang sejati.



happy ending

date: 23 oktober 2009, pukul 18.45

No comments:

Post a Comment