Tadi aku melihat nona bodoh matanya merah. Rautnya penuh kekecewaan, patah hati menurutku. Aku tersenyum, pilu melihat nona bodoh semakin bodoh.
Nona, jangan bodoh, kau sudah tumbuh. Kenapa masih begitu sulit untuk kau sikronkan hati dan otakmu?
Nona bodoh tak bergeming. Dia kecewa, tapi tak terlihat. Bentengnya terlalu kokoh, benteng kemunafikan, haha.
Nona, berhenti berlagak tangguh. Nona, berhenti ikut terhanyut dengan tuanmu itu. Haha, tuan. Dia yang kau bilang tuan. Tuan yang hanya bagimu.Tuan yang perlahan-lahan kau buatkan ruang di hatimu. Nona, dia tak ingin masuk! Non, dia tak menempati ruang itu! Non, berhenti berhalusinasi.
Nona bodoh tak menggubris. Matanya hanya memerah dengan raut yang sama. Akupun diam. Perlahan air keluar dari matanya. Aku tetap diam, ini bukan hal yang baru bagiku.
Aku bakal gusur ruang itu. Aku janji!
Seru nona bodoh disela isakannya.
Aku tertawa terbahak-bahak. Satu, karena nona bodoh menangis. Dua, karena janji main-mainnya
Jangan berlagak janji nona,
kau semakin terlihat bodoh saja.
Setelah itu, aku meninggalkannya sendirian. Membiarkan dia menangisi kebodohannya.
Jakarta, 12/12/16 1.20 PM